Tidak Ada Yang Namanya Rasa Malas

Pemalas adalah suatu cap yang biasa diberikan pada orang yang tidak mau melakukan sesuatu. Padahal, menurut psikolog, tidak ada yang namanya rasa malas, yang ada adalah hambatan yang tidak terlihat.


Seorang Nonbinary Social Psychologist sekaligus penulis dari Chicago bernama Devon Price menuliskan artikel cerdas tentang hal yang telah ia pelajari selama 6 tahun belakangan sebagai seorang professor psikologi tentang perilaku mahasiswa-mahasiswanya yang dianggap ‘pemalas’.

Mahasiswa yang tidak segera mengumpulkan tugas, tidak masuk saat presentasi, tidak mengikuti ujian, terlambat mengumpulkan makalah, dan sebagainya biasanya dianggap sebagai pemalas. ‘Kemalasan’ bukanlah sebuah hal yang layak dijadikan alasan untuk semua masalah tersebut.

Ada faktor situational dan kontekstual yang mengendalikan seseorang untuk berperilaku. Jika kita ingin mengira-ngira atau menjelaskan perilaku atau tindakan seseorang, lihatlah norma sosial yang berlaku di sekitarnya dan konteks orang tersebut. Hambatan kontekstual dapat digunakan untuk memprediksi sikap atau tindakan seseorang lebih baik daripada jika hanya dilihat dari kepribadian, kecerdasan, atau sifat pribadi lainnya.

Kita pasti melakukan interaksi dan kerjasama dengan orang lain, pasti ada saja hal yang membuat kita jengkel atau marah pada orang lain, misalnya ‘kemalasan’ mereka. Jika kita melihat seseorang melakukan hal yang umumnya dianggap sebagai suatu ‘kemalasan’, tanyakan dulu pada diri anda sebelum memarahinya, “Apakah kendala situational yang menghambatnya?”, “Kebutuhan apa yang tidak mereka dapatkan?”, dan “Hambatan apa yang tidak dapat saya lihat saat ini?”.

Ingatlah, pasti selalu ada kendala yang menghalanginya. Mengenali dan menilai kendala tersebut sebagai sesuatu yang masuk akal adalah langkah awal untuk menghancurkan pola perilaku ‘malas’ tersebut.

Tidak Ada Yang Namanya Rasa Malas

Yang Ada Adalah Hambatan Yang Tidak Terlihat

Tidak ada yang namanya rasa malas | arum.me
Apakah benar kita adalah pemalas? | Photo by Hutomo Abrianto / Unsplash

Dalam merespon perilaku seseorang yang tidak efektif, yaitu ‘rasa malas’, keingin-tahuan jauh lebih berguna daripada kebiasaan menghakimi.

Mudah saja bagi kita menghakimi seseorang sebagai ‘pemalas’. Lalu bagaimana jika si ‘pemalas’ itu adalah pasangan kita, murid kita, atau rekan kerja kita? Kita pasti memerlukan mereka untuk melakukan sesuatu. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, rasa ingin tahu kita lebih bisa menolongnya ketimbang hanya memarahinya.

Jika kita tidak sepenuhnya memahami konteks seseorang, seperti bagaimana rasanya menjadi mereka setiap hari, bagaimana gangguan dan trauma yang mereka miliki mempengaruhi kehidupan mereka, kita akan kehilangan poin penting bahwa sebenarnya mereka sudah mengusahakan yang terbaik yang mereka bisa pada saat itu.

Apabila perilaku seseorang tidak masuk akal bagi anda, artinya anda kehilangan sebuah bagian dari konteks yang mereka miliki. Sesederhana itu.

Ada banyak perilaku yang dianggap sebagai kegagalan moral. Contohnya adalah ‘kemalasan’ yang sebenarnya atau lebih tepat disebut dengan ‘perilaku menunda’. Menunda-nunda pekerjaan dianggap sebagai sebuah ‘kemalasan’ bagi mereka yang tidak mengerti. Orang yang sering menunda pekerjaan juga menganggap diri mereka ‘pemalas’. Harusnya melakukan sesuatu, tetapi memilih untuk tidak berbuat apapun dianggap sebagai kegagalan moral, nggak niat, motivasinya lemah, pemalas.

Penyebab ‘Perilaku Menunda’

Selama puluhan tahun, berbagai penelitian yang dilakukan para psikolog berhasil membuktikan bahwa ‘penundaan’ atau ‘perilaku menunda’ adalah sebuah masalah fungsional, bukan konsekuensi dari ‘rasa malas’. Ketika seseorang gagal memulai proyek yang seharusnya mereka pikirkan, umumnya dikarenakan:

  1. Kekhawatiran apabila hasil usaha mereka tidak cukup baik.
  2. Kebingungan harus mulai dari mana untuk memulainya.

Semua itu bukan karena ‘malas’. Faktanya, penundaan adalah ketika hal yang harusnya dikerjakan itu sebenarnya penting dan orang tersebut berharap hasilnya baik.

Kita bisa takut gagal, tidak tahu harus mulai darimana, atau terlalu kesulitan menyelesaikan suatu hal. Semua itu tidak ada hubungannya dengan niat, motivasi, atau keteguhan moral. Orang yang menunda bisa saja duduk seharian di depan komputer tanpa mengetik apapun, malahan hanya menyiksa dan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan mereka yang sebenarnya tidak membantu mereka dalam menyelesaikan pekerjaannya. Nyatanya, keinginan besar untuk segera menyelesaikan pekerjaan malah membuat mereka semakin stres dan pekerjaan terasa semakin sulit.

Solusinya? Mencari tahu apa yang menghambatnya. Misalkan masalahnya adalah kegelisahan, maka mereka perlu meninggalkan sejenak kesibukan mereka dan mencari kegiatan relaksasi.

Misalkan kita ingin menyelesaikan skripsi, mulai dari membuat proposal, mengumpulkan data penelitian, hingga landasan teori. Asal kita bisa memilah-milah mana yang lebih dulu harus diselesaikan, maka kita bisa segera mendaftar sidang skripsi dengan cepat. Namun ada orang yang perlu buku panduan, bimbingan, deadline dari orang lain, atau media pembantu seperti kalender, daftar pekerjaan, buku catatan, atau silabus.

Membutuhkan hal-hal tersebut bukan menjadikan mereka sebagai ‘pemalas’, mereka hanya butuh bantuan.

Studi Kasus

Ada seorang mahasiswi yang sering membolos. Ia nampak begitu lelah, dan lebih memilih nongkrong di kantin. Kalaupun dia masuk kelas, ia cenderung menyendiri dan memilih duduk di belakang, dan ya, nampak lelah. Saat diskusi kelas, ia berkontribusi di grup kecil, tapi tidak di grup besar.

Banyak dosen menganggap gadis ini pemalas, berantakan, atau apatis. Mereka bahkan akan marah padanya dan mengajukan pertanyaan seperti, “Kenapa kamu tidak serius di kelas saya?”, “Apa pelajaran ini nggak penting buat kamu?”

Sebagai profesor psikologi neurotipikal, Devon Price memberikan materi tentang stigma kesehatan mental. Pembahasannya adalah bagaimana kebanyakan orang memberi tuduhan tidak adil pada orang yang punya masalah mental, bagaimana depresi dianggap sebagai kemalasan, bagaimana perubahan mood yang cepat dianggap sebagai perilaku manipulatif, atau bagaimana seseorang dengan masalah mental yang cukup parah dianggap tidak kompeten bahkan berbahaya.

Sang mahasiswi nampak tertarik pada kelas saat itu. Di akhir kelas, gadis itu mendatangi Profesor Devon dan menceritakan masalahnya. Ia ternyata memiliki masalah mental dan sedang aktif mengatasinya. Ia sibuk dengan terapinya, gonta-ganti pengobatan, dan efek dari pengobatan tersebut. Belum lagi ia harus kerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan hidup sambil aktif berkuliah. Sang profesor memilih percaya padanya. Nyatanya si mahasiswi bukanlah pemalas, malahan ia adalah seorang wonderwoman.

Dengan perlakuan yang tepat, sang gadis mulai menunjukkan perubahan. Dia aktif berkontribusi di kelas, bahkan dia memutuskan untuk berbicara terbuka di depan kelas tentang masalah mental yang dialaminya, membuat karya tulis yang bagus, mengajukan pertanyaan cerdas.

Di kelas lain dimana dia dihakimi, ia tetap setertutup dan ‘semalas’ sebelumnya. Namun di kelas Prof. Devon, dimana hambatan yang dia miliki dikenali, dia berkembang pesat.

Terkadang Orang Memilih Hal Yang Mudah Daripada Hal Yang Benar

“It’s morally repugnant that an educator would be so hostile to the people they are supposed to serve.”

~ Devon Price

Kebanyakan orang dengan posisi tinggi dan kemampuan bagus adalah mereka yang bisa menyelesaikan pendidikan dengan mudah, sehingga mereka kesulitan untuk memahami orang lain dengan kemampuan terbatas, masalah sensorik, depresi, kecanduan, dan lain-lain.

Jika seseorang tidak segera bangun, mungkin saja ia masih kelelahan. Jika seorang mahasiswa tidak mengumpulkan esai, mungkin ada bagian yang tidak bisa ia kerjakan tanpa bantuan. Jika karyawan sering menyelesaikan pekerjaan melebihi deadline, mungkin ada kesulitan dalam membagi tugas dan pekerjaan. Bahkan jika ada orang yang menyabotase dirinya sendiri, mungkin ada ketakutan yang mereka sedang coba atasi, kebutuhan yang tidak terpenuhi, atau krisis percaya diri.

Tidak ada orang yang memilih untuk gagal atau mengecewakan. Tidak seorang pun ingin merasa tidak mampu, tidak efektif, atau apatis. Tidak ada yang namanya rasa malas. Jika yang anda lihat hanya ‘kemalasan’, maka anda telah melewatkan poin penting. Selalu ada penjelasan. Selalu ada hambatan. Hanya karena kita tidak bisa melihatnya, bukan berarti tidak ada. Lihatlah lebih jauh.

Mungkin sebelumnya anda tidak pernah memahami orang lain dengan cara pandang seperti ini. Tidak masalah. Tapi sekarang anda sudah mengetahui cara pandang ini. Silahkan mencoba.

Tidak Ada Yang Namanya Rasa Malas
5 (100%) 5 votes


Berikan komentar....