Talijiwo – Karya Sastra Kekasih Berpolitik Kehidupan

Bagi para penggemar Sujiwo Tejo, pasti sudah tidak asing dengan tulisan-tulisannya yang ‘nyeleneh‘ namun memikat. Pada tahun 2018, beliau mengeluarkan karya tulisnya berbentuk buku (atau yang dikenal dengan Bukugrafi Sujiwo Tejo) yang berjudul Talijiwo.

Dari judul dan gambar pada cover buku ini nampak bahwa isinya adalah tentang romantisme kehidupan. Ditambah lagi dengan beberapa bait syair yang disematkan pada cover – dalem dan nggak nggombal.

Review Buku Talijiwo | arum.me

Review Buku Talijiwo

Sebelum buku ini terbit, Sujiwo Tejo sudah banyak men-twit di akun Twitter beliau dengan hashtag #TaliJiwo yang bisa membuat kita tertegun, kepikiran, atau tidak terima. Kayak apa sih twit dari beliau? Saya ambil 5 contoh terbaik versi Arum ya, karena kalau semuanya, ada ratusan. Hehe.

1. Senja kukenang pada keningmu, Kekasih. Kala kau rebah di antara tangis dan cakrawala.

2. Cinta bukanlah seluruh kata-kata yang pernah ada, sebab rasaku padamu tak tentang kata.

3. Tahukah kau manusia paling tak berperasaan di muka bumi? Dia yang jauh dari Kekasih saat hujan tapi tak ia tulis satupun puisi.

4. Kekasih, kupanggili kau di padang savana senja itu, kuteriakkan, agar namamu lebih luas dari kesepianku.

5. Rahwana: Tuhan, jika cintaku pada Sinta terlarang, kenapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?

Itulah beberapa contohnya. Kalau mau versi lengkapnya, kalian bisa cek sendiri di akun beliau atau akun lain yang memuat karya beliau.

Beberapa tulisan tersebut beliau tuang dalam buku terbarunya ini dan menambahkannya dengan pemikiran-pemikiran beliau, dibumbu dengan politik dan kisah pasangan Sastro dan Jendro. Talijiwo bukanlah roman picisan begitu, jadi tenanglah, tulisannya nggak lebay.

Laut mengarang batu, debar berdebur tak menghempasnya, Kekasih, di sana tegak abadi rinduku padamu….

Buku Talijiwo ini memiliki 5 subjudul yang masing-masingnya memiliki 7 kisah. Setiap kisah ditulis sebanyak 3 sampai 5 halaman. Partisi seperti ini membuat kita tidak jenuh membaca. Mungkin ini karena setiap judul kisah memiliki cerita yang nggak terlalu nyambung satu sama lain. Jadi kayak baca kumpulan cerita pendek. Ditambah lagi dengan bahasan politik yang beliau hubungkan dengan kisah karakter-karakter dalam buku ini.

Saya sendiri bukanlah penggemar politik, yahh karena terlalu rumit, penuh intrik, seram pokoknya. Namun Sujiwo Tejo mampu membuat bacaan berkomposisi politik ini menjadi menarik bagi saya. Sedikit – banyak, saya mendapat tambahan informasi politik berikut pemikiran beliau mengenai hal tersebut.

Beberapa pernyataan mungkin akan membuat kita mengernyit, merasa aneh, atau tidak terima. Tetapi Sujiwo Tejo tidak lupa memberikan alasan dan penjelasannya. Selayaknya seorang seniman, pasti karya sastra beliau tidaklah mainstream, sesuai karakter beliau yang eksentrik.

Talijiwo ini ditulis dengan sederhana, apa adanya, informatif, dan sajak yang beliau tawarkan – sweet. Saya suka buku ini. Ada banyak pemahaman dan pemikiran yang sebetulnya sudah kita ketahui namun tidak terpikirkan sebelumnya.

Selamat menambah referensi buku (;

Leave a Reply