Review Film “Time Traveler’s Wife” – Make Every Second Counts

Arum ingin menonton film ini dari lama, tapi tertunda terus. Dari judulnya saja – “Time Traveler’s Wife” sudah bisa ditebak kalau filmnya pasti menyedihkan, makanya agak gimana gitu mau nonton. Cukuplah kehidupan ini yang menyedihkan, film jangan. Hehe. Kok jadi baper ya. Kembali ke topik. Akhirnya saya tonton juga ini film karena kepo.

Time Traveler’s Wife memang bukan film baru, tapi saya baru nonton, dan bagus, dan juga sukses buat saya nangis, makanya itu saya pingin bikin review-nya.

Review Film Time Traveler's Wife
Review Film Time Traveler’s Wife dari novel International Bestseller.

Film ini diadopsi dari salah satu novel terlaris di dunia karya Audrey Niffenegger. Saya suka membaca, dan melihat ada novel International Bestseller, ya wajib nonton filmnya, walau belum baca bukunya juga sih. Hehe.

Saya yakin, sering banget orang bilang, “Bukunya lebih bagus daripada filmnya.”

Jelas. Pasti. Banget.

Kenapa? Ya iyalah ya.. novel kan nulis detailnya, deskripsinya dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca bisa merasakan atmosfir yang ingin dituangkan oleh penulis, karena esensi membaca novel adalah mengembangkan imajinasi. Nah, supaya pembaca bisa berimajinasi secara total, ya deskripsinya pun dibikin total. Kalau filmnya dibuat sedetail bukunya, wah bisa jadi film seri.

Seperti judulnya, film ini menceritakan bagaimana seorang wanita bernama Clare Abshire (Rachel McAdams) menjalani kehidupan sedari kecil menjadi soulmate-nya Henry deTamble (Eric Bana) yang merupakan seorang pengelana waktu.

Clare bertemu Henry untuk pertama kalinya saat usianya masih 6 tahun, dan pada saat itu usia Henry sudah 36 tahun. Henry sendiri memiliki kemampuan sebagai “time traveler” sejak ia berusia 6 tahun. Ia terus bepergian dari satu waktu ke waktu yang lain tanpa bisa mengendalikannya.

Review Film Time Traveler's Wife
Review Film Time Traveler’s Wife

Kemudian saat Clare berusia 20 tahun, ia bertemu dengan Henry yang berusia 28 tahun. Mulai dari situlah hubungan mereka semakin erat, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Menikah dengan pria yang tidak bisa selalu ada untuk wanitanya secara normal pasti akan menjadi masalah tersendiri.

Benar saja. Pada malam pernikahan mereka, Henry menghilang tiba-tiba saat sedang asyik loncat-loncat di atas kasur seperti seorang bocah. Henry pun menghilang selama 2 minggu saat Natal dan Tahun Baru tiba. Sehingga Clare harus melalui moment keluarga sendirian, dan ia terus menantikan kehadiran Henry.

“It’s hard being left behind. It’s hard to be the one who stays.”

Clare harus melalui sepanjang hidupnya dengan menanti Henry kembali dari “pengembaraannya” yang tentunya bukan hal yang mudah bagi keduanya.

Permasalahan semakin bertambah saat Clare hamil. Wanita cantik itu mengalami keguguran tiba-tiba yang terjadi berkali-kali, karena ternyata sang bayi memiliki gen yang sama seperti ayahnya, sang janin bisa “time travelling” tanpa bisa mengendalikannya. Tapi bisa dibayangkan kan? Masih janin sudah keluar dari kandungan, ya pasti langsung meninggal dimanapun dia berada.

Situasi semakin berat, untungnya Clare dan Henry dikelilingi oleh keluarga dan sahabat yang selalu mendukung mereka. Lalu bagaimanakah mereka menghadapi “situasi” abnormal tersebut? Kepo kan? Tontonlah filmnya dengan orang-orang terkasih.

Film bergenre drama fiksi ini bisa dikategorikan ke dalam film BO (Bimbingan Orangtua). Adegan yang membuat film ini tidak bisa masuk kategori SU (Semua Umur) adalah karena ada kissing scene-nya, yang kalau di luar negeri sana nggak masalah, tapi masalah kalau di Indonesia.

Film ini mendapat rating yang cukup bagus dari IMDb, yaitu 7,4/10, namun hanya 3,8/10 dari Rotten Tomatoes. But still, this movie is worth it.

Film “Time Traveler’s Wife” ini cocok untuk ditonton bersama keluarga ataupun sahabat. Tema keluarga yang diusung oleh film ini sangat terasa.

“I never wanted to have anything in my life that I couldn’t stand losing. But it’s too late for that.”

Film ini mengajarkan bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, tetapi bisa dimiliki, sesuatu yang bisa dimanfaatkan, namun sekalinya disia-siakan, ia takkan pernah bisa kembali.

Jadi, selagi masih ada waktu dan kesempatan, nikmatilah waktu yang kita punya dengan orang-orang terkasih.

Don’t ever take them for granted and make every second counts.

Review Film “Time Traveler’s Wife” – Make Every Second Counts
5 (100%) 1 vote

Berikan komentar....