Review Film Raya and The Last Dragon – Persepsi dan Inisiatif

Halo para penggemar film! Kali ini Arum akan membahas mengenai film terbaru produksi Disney yang rilis di Indonesia pada 3 Maret 2021 lalu – Raya and The Last Dragon.

Film ini sudah bisa kita nikmati di bioskop kesayangan di kota masing-masing, yang pastinya sudah beroperasional kembali dengan protokol kesehatan ala new normal – akibat dampak dari COVID-19.

Review Film Raya and The Last Dragon

Review Film Raya and The Last Dragon | arum.me
Review Film Raya and The Last Dragon | Tentang Persepsi dan Inisiatif

Film Raya and The Last Dragon ini – pada dasarnya – sama dengan film-film Disney sebelumnya, seperti Moana dan Frozen. Intinya tentang seorang putri yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Ya heroik, ya dramatis, ya begitulah.

Seperti yang sudah tertera di bagian judul – Raya and The Last Dragon – bercerita tentang lakon utama yang merupakan seorang gadis dari negeri Heart bernama Raya. Raya berinisiatif untuk menemukan naga terakhir demi menyelamatkan dunia Kumandra dari serangan Druun.

Dari poster filmnya, penampakan sang naga tidak sangar seperti naga-naga yang umumnya bisa kita temukan di film-film fantasi. Sang naga terakhir bernama Sisu ini memiliki karakter yang biasa-biasa saja, bahkan terasa seperti manusia biasa.

Hal Yang Menarik dari Raya and The Last Dragon

Ada beberapa hal yang menurut saya menarik dari film berdurasi 1 jam 57 menit ini sehingga tidak terasa begitu-begitu saja selama ditonton.

  • Karakter hewan peliharaan tokoh utama yang merupakan seekor trenggiling bernama Tuk-tuk (sepertinya diambil dari nama kendaraan roda tiga khas Thailand dan Kamboja). Dari pertama melihatnya, saya langsung jatuh hati karena bentuknya yang lucu dan imut, bahkan saat Tuk-tuk menjadi trenggiling raksasa, ia tetap menggemaskan.
  • Karakter Sisu yang – walaupun ia seekor naga – ia memiliki sifat manusiawi. Sisu sama powerless-nya dengan manusia lain tanpa kekuatan permata naga. Ia juga memiliki sifat yang lugu.
  • Karakter Namaari yang merupakan kawan sekaligus lawan Raya. Kontrasnya peran Namaari di film ini membuat saya cukup merasa penasaran akan seperti apa dia akhirnya, membantukah atau menggagalkankah. Bahkan sampai menuju akhir cerita, Namaari masih dibuat tidak jelas akan memihak pada siapa. Jadinya, mau tidak mau, saya melihat filmnya sampai akhir. Hehee.
  • Visual pemandangan yang disuguhkan di film animasi ini sangat khas, yaitu nuansa alam Asia Tenggara.

Pesan Moral dari Film Raya and The Last Dragon

Nilai moral dari film inilah yang membuat film ini terasa berbobot. Kisahnya memang ringan, karena temanya memang sudah umum, namun pesan yang diusung dapat membuatnya menjadi berbeda.

Persepsi

  • Karena persepsi yang berbeda dari setiap orang dapat membuat manusia menjadi terpecah-belah, kemudian mengarah kepada “kerusakan” dunia.
  • Apa yang kita pikir benar, belum tentu benar-benar benar. Begitupun apa yang kita pikir salah, belum tentu benar-benar salah. Benar atau salah memiliki nilai relatif, tergantung dari siapa yang menilainya.
  • Mengenai kebaikan dan keburukan. Manusia cenderung memiliki persepsi dan tolak ukur masing-masing tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Seringnya malah menyama-ratakan sesuatu yang buruk, pasti semuanya buruk. Padahal dalam hal buruk pun, bisa ada kebaikan di dalamnya, begitupun sebaliknya kebaikan.

Inisiatif

  • Semua orang menginginkan perubahan dalam hidup, namun hanya sedikit yang mau untuk melakukan perubahan terhadap pola pikir maupun perilaku mereka.
  • Tanpa adanya inisiatif untuk memulai sesuatu, maka tidak akan ada satupun hal yang dapat terselesaikan.
  • Terkadang, untuk menyelamatkan keadaan, kita perlu menurunkan ego terlebih dahulu.

Itulah pesan mendalam yang bisa saya ambil dari keseluruhan cerita Raya and The Last Dragon. Dan memang itulah kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat.

Walaupun film animasi biasanya lebih ditujukan untuk anak-anak, namun pesannya bisa begitu mengena dan lebih cocok untuk dikonsumsi oleh kita yang sudah bukan anak-anak lagi, agar kita bisa lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap.

Kesimpulan

Film Disney ini memang terasa biasa-biasa saja dari segi cerita, seorang putri, menyelamatkan dunia, punya peliharaan, ada dramanya, banyak temannya, misi penyelamatan yang dipenuhi halangan yang “ngeselin“, dibumbui humor ringan, semuanya selamat dan baik-baik saja, lalu happy ending.

Tetapi dari segi pesan moral, film ini berbobot dan keren. Mengingatkan kita yang dewasa ini untuk menjadi lebih dewasa, lebih bijaksana, dan juga lebih memperhatikan hal-hal kecil namun penting yang biasanya kita abaikan.

Author: Arum Kinasih

"this too, shall pass"

Leave a Reply

Your email address will not be published.