Review Film “Nappily Ever After”

Kali ini Arum akan membuat review film “Nappily Ever After” Emmm…, agak asing ya? Bukan film bioskop biasa sih….. Ini film punya’nya Netflix…, hehe….

Dari judulnya saja sudah kelihatan ya kalau ini film drama-komedi? Nappily Ever After.

Jujur saja pas tahu kata “nappy“, saya kira itu artinya “tidur siang” (nap), eh ternyata artinya adalah “kribo”. Hehe.

Emang nonton film paling bisa nambah perbendaharaan kosakata yang saya miliki. Itulah salah satu alasan saya suka banget nonton film.

Film produksi Netflix ini rilis pada 21 September 2018 lalu dan mendapatkan rating yang cukup baik, yaitu 6,4/10 baik dari IMDb maupun Rotten Tomatoes.

Nappily Ever After
Nappily Ever After

Kisahnya diangkat dari sebuah buku yang ditulis oleh Trisha S. Thomas, seorang bestselling author.

Film ini dibuka dengan adegan seorang gadis cilik keturunan Afro-Amerika yang sedang berdiri di pinggir kolam renang. Dia sudah memakai baju renang, tapi anehnya dia tidak berenang, malahan hanya memandangi seorang anak laki-laki yang nampak sangat menikmati kegiatan berenangnya.

Kenapa gadis ini nggak berenang? Ternyata karena rambutnya. Biasanya, orang berdarah Afro-Amerika memiliki rambut kribo, begitupun gadis tersebut.

Saat itu rambutnya lurus dan rapi, karena sang ibu yang selalu meluruskan rambut anaknya dengan sisir besi yang dipanaskan sebelum pergi kemanapun. Jadi pantas saja, kalau terkena air, rambut aslinya pasti akan kelihatan, maka dari itu sang ibu melarang anaknya berenang.

Gadis itu bernama Violet Jones (Sanaa Lathan). Akhirnya karena diremehkan oleh anak laki-laki tadi, Violet menceburkan dirinya ke kolam untuk membuktikan kalau dia tidak takut air. Jelaslah sudah, rambutnya balik ke aslinya. Violet pun ditertawakan semua anak kecil di sekitar kolam renang yang mayoritas keturunan asli Amerika.

Sejak saat itu, Violet selalu menuruti perkataan ibunya untuk tampil sesempurna mungkin agar tidak lagi ditertawakan orang lain.

Scene beralih ke Violet yang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang nyaris sempurna, wajah yang cantik, tubuh yang seksi, rambut yang indah, kepribadian yang “tertata” baik, karir yang baik, dan memiliki seorang kekasih tampan – Clint Conrad (Ricky Whittle) yang berprofesi sebagai dokter bedah. Sang ibu – Paulette Jones (Lynn Whitfield) tentunya sangat puas dengan keadaan putri semata wayangnya tersebut.

Dengan adanya Violet dewasa, maka film ini masuk dalam kategori D alias dewasa.

Konflik dari film ini adalah saat Violet memutuskan untuk berpisah dengan Clint, yang membuat performa kerjanya pun menurun. Kemudian dia bertemu dan dekat dengan seorang duda beranak satu – Will Wright (Lyriq Bend).

Kenyataan itu sangat mengecewakan ibunya. Belum lagi sang ibu masih harus menerima perpisahannya dengan sang suami – Richard Jones (Ernie Hudson) karena perbedaan visi dan misi hidup. Sang ayah lebih memilih menjadi seorang model untuk memenuhi keinginannya.

Cerita yang diangkat dalam film ini sangat mewakili banyak permasalahan yang sedang terjadi pada kaum wanita. Mulai dari krisis kepercayaan diri, tuntutan sosial tentang konsep “cantik”, tekanan batin karena berusaha menjadi orang lain yang bukan dirinya sendiri demi menyenangkan orang lain, dan melawan gengsi atau jaim.

Film ini mampu memenuhi ekspektasi saya akan sebuah film yang bergenre drama-komedi. Humor dewasa tapi tidak terkesan jorok, romansa yang tidak menyemenye, karakter semua tokohnya pun bisa dibawakan dengan begitu natural dan tidak mendramatisir.

Nappily Ever After sangat inspiratif bagi mereka yang membutuhkan pencerahan bagaimana keluar dari zona nyaman kita sebagai wanita yang hidup di era “image is everything“.

Nilai moral yang bisa diambil dari film ini adalah bagaimana seharusnya kita menghargai dan berani menjadi diri sendiri.

Film ini sangat worth it untuk ditonton. Penasaran seperti apa filmnya? Silahkan ditonton sendiri ya.. hehehe. Film ini bisa kalian temukan di Netflix.

Review Film “Nappily Ever After”
5 (100%) 2 votes

Berikan komentar....