Review Film Joker – It’s Not a Joke!

By | October 3, 2019

Lantunan lagu lawas mengiringi Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) yang sedang sibuk mengenakan pakaian badut. Tubuhnya yang kurus kering menunjukkan betapa berat kehidupan yang ia jalani. Namun ia tetap harus bekerja dan tampil ceria sambil menari di pinggir jalan di depan toko yang menyewa jasanya. Ia terus menari dengan senyum lebar ala riasan badut sambil mengangkat tinggi papan iklan toko tersebut.

Review Film Joker | arum.me

Review Film Joker | It’s Not a Joke!

Kemudian, segerombolan remaja merebut papan itu dan membawanya lari. Arthur mengejarnya sambil berteriak minta tolong agar seseorang menghentikan mereka. Tak seorang pun menolongnya.

Ia terus mengejar mereka hingga ujung gang. Dia melihat gerombolan remaja tadi berhenti seperti menantinya. Tanpa ia sadari, seorang remaja tiba-tiba menghantamkan papan iklan tadi ke tubuhnya hingga papan tersebut hancur. Ia tersungkur dan diberondong tendangan brutal para remaja tadi. Arthur hanya meringkuk terdiam membiarkan tubuhnya dianiaya.

Hati saya terluka melihat perlakuan yang diterima pria tersebut. Apalagi tak ada seorangpun yang menghiraukannya.

Gelak suara tawa Arthur membahana di dalam ruangan kantor dinas sosial yang kecil dan kotor. Seorang wanita paruh baya tanpa ekspresi menanyakan keadaan pria tersebut dan meminta jurnal pribadinya. Jurnal tersebut ia jadikan buku catatan guyonannya (joke). Seusai sesi konsultasi tersebut, Arthur pulang ke apartemen kecilnya. Ia tinggal bersama ibunya yang telah renta.

Jleb! Saya makin merasa sedih dengan keadaan pria ini. Orang sebaik itu kenapa harus mendapat perlakuan yang buruk. Ya walaupun terasa ‘gitu banget‘, tapi saya rasa itulah kenyataan yang tengah terjadi dalam masyarakat, dan film ini menggambarkannya secara sarkas.

Penderitaan yang harus diterima Arthur tidak berhenti sampai disitu. Ia masih mengalami banyak hal buruk lainnya, terutama perlakuan orang lain terhadap dirinya.

Sepanjang film, yang terasa hanya ‘dark’. Meskipun namanya Joker, namun sama sekali tidak ada hal yang membuat saya tertawa. Sekalipun ada sedikit dark humor yang disajikan, tetapi hal itu tidak menutupi kekelaman ceritanya. Jadi, jatuhnya ya sedih, prihatin, kasihan, dan perasaan gloomy lainnya.

Karakter Joker (karakter di DC comics) yang saya ketahui selama ini adalah penjahat kelas kakap yang mengalami gangguan jiwa, sadis, tidak berperasaan, dan tidak memiliki hati nurani sama sekali. Saya pun akhirnya merasa enggan menonton film Batman. Tapi entah kenapa, saya tertarik untuk menonton film solonya Joker. Mungkin karena saya penasaran, kenapa sih Joker bisa seburuk itu. Apalagi didalam teaser filmnya, dia adalah orang yang ‘mulanya’ baik.

Terus terang saya merasa terluka melihat perlakuan orang lain terhadap karakter Joker alias Arthur. Di dalam dunia yang kejam, dia berusaha sebaik mungkin untuk tetap menjadi orang baik. Namun karena hantaman yang bertubi, ia kalah juga dengan keadaan. Luka batin yang ia dapatkan begitu banyak.

Hal yang paling menyedihkan bukanlah Joker yang tidak punya hati nurani, melainkan dirinya yang pernah memiliki hati nurani.

Bukan berarti saya membenarkan tindakannya. Saya hanya menyesalkan pilihannya untuk menyerah pada keadaan dan menjadi sosok yang dulunya paling ia benci.

Banyak pesan moral yang bisa saya ambil dari film ini. Film Joker yang disutradari oleh Todd Phillips ini terasa begitu membekas hingga saat ini.

Film berdurasi 2 jam 2 menit ini banyak menuai kontroversi karena saking kelamnya. Awalnya ada banyak adegan yang akan dipotong karena dianggap terlalu sadis, namun akhirnya hal itu tidak terjadi. Jadi film ini sama sekali tidak disensor di Indonesia dan sebaiknya ditonton oleh orang dewasa (D).

Film Joker ini mendapat rating 9,4/10 dari IMDb dan 63/100 dari Metacritic. Kalau arum.me – untuk kali ini – tidak bisa memberikan nilai, karena this is not my kind of movie – wayyy too dark!

Oh ya! Film ini tidak ada credit title atau post credit scene – nya. Walaupun film garapan Warner Bross sebelumnya yaitu Shazam dan Aquaman memiliki post credit, namun tidak untuk film kelam ini. Bagi sang sutradara, itu akan membuat film ini berbeda daripada umumnya. Jadi tidak perlu berlama-lama menunggu setelah film selesai.

Buat yang mau menontonnya, semoga review ini bisa membantu. Selamat menonton!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *