Review Film 21 Bridges

By | December 4, 2019

Chadwick Boseman pasti bukan lagi aktor yang asing di telinga kita karena perannya yang memukau di salah satu film superhero tenar produksi Marvel – Black Panther.

Di poster promosinya, terpampang wajahnya yang memegang pistol, wah jelas dia jadi polisi, detektif, atau semacamnya. Awalnya tidak tertarik untuk menontonnya karena saya sudah terlanjur suka dengan karakternya sebagai Raja Wakanda. Takutnya, image-nya akan jatuh karena (lagi-lagi takutnya) film ini nggak bagus.

Akhirnya nonton juga sih karena kepo, dan saya suka. Image Boseman tetap terjaga dengan baik sebagai karakter yang berwibawa, punya hati nurani, and he is still a hero.

Judul 21 Bridges ini diambil dari jumlah jembatan yang ada di kota Manhattan, yaitu 21. Ceritanya ada buronan yang telah merampok heroin, dan membunuh 8 orang polisi. Sebagai detektif yang terkenal suka membela polisi, ia ditugaskan menangani kasus ini, dan salah satu tindakannya adalah menutup segala akses dari dan ke kota Manhattan dengan memblokade jalur di 21 jembatan di Manhattan.

Boseman berperan sebagai Andre Davis, seorang pria – anak dari seorang polisi yang meninggal saat bertugas. Kejadian tersebut membuat dia sangat melindungi keselamatan sesama rekan polisi dan berdedikasi tinggi dalam karirnya.

Penyidikannya dalam mengungkap kasus tersebut membawanya pada suatu kenyataan bahwa apa yang terjadi tidaklah sederhana, namun ada konspirasi besar di baliknya.

Film bergenre action ini cukup seru dari hal aksi baku tembaknya, bahkan bisa dibilang seram, karena detail tertembaknya, berdarah-darahnya nggak disensor. Tapi kalau dari twist-nya cukup bagus. Saya suka film yang membuat orang bisa berpikir lebih dan menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

21 Bridges yang disutradari oleh Chadwick Boseman sendiri ini cukup layak untuk dimasukkan ke dalam list film yang wajib ditonton di akhir tahun ini. Seru sih memang, tapi mungkin karena tema yang diusung tidak asing atau pernah diangkat di beberapa film lainnya, jadi nggak sebegitu “mengagetkan” atau terkesan biasa saja.

Jika dilihat dari jumlah penonton yang hadir saat Arum

menonton film ini, sepertinya film ini cukup sepi peminat. Mungkin karena rating-nya yang biasa saja. Dari IMDb 6,6/10, Rotten Tomatoes 50/100, dan 51/100 dari Metacritic.

Namun film ini dapat menyampaikan pesan yang ingin diberikan dengan baik, sehingga membuat penonton berpikir kembali apabila berada di posisi Andre, apalagi pilihan Andre untuk meneruskan kasus tersebut adalah pilihan yang sangat sulit bila diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata.

Mengingat banyak adegan baku tembak yang tidak disensor, sebaiknya film ini ditonton oleh minimal remaja (R).

Itu aja sih review yang bisa saya beri. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung di blog saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *