Review Buku The Last Lecture yang Inspiratif

“Time is all you have. And you may find one day that you have less than you think.” ~Randy Pausch

Itu adalah salah satu dari sekian banyak quote ‘wow’ yang bisa diambil dari buku The Last Lecture karya Randy Pausch.

Randy Pausch adalah seorang profesor ilmu komputer. Banyak hal besar yang telah beliau lakukan, seperti menjadi co-founder dari perusahaan Entertainment Technology Center.

Salah satu proyek terbesarnya adalah dalam menciptakan Alice – sebuah pemrograman berbasis blok untuk memudahkan pembuatan animasi, membangun narasi interaktif, atau memprogram game sederhana berbasis 3D.

Sesuai dengan judul yang Pausch pilih, buku ini merupakan ‘kuliah terakhir’ yang bisa beliau berikan sebelum tutup usia. Pausch meninggal pada 2008 di usia 47 tahun karena kanker pankreas.

Beliau meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak. Sebagai seorang profesor atau pengajar, beliau memutuskan untuk memberikan ‘peninggalan’ sesuai dengan keahlian beliau, yaitu ‘pengajaran’ atau ‘kuliah’.

‘Peninggalan’ ini ditujukan untuk semua orang yang mungkin membutuhkannya, dan tentunya untuk ketiga anaknya yang masih kecil ketika beliau meninggal. Pausch ingin membagikan pengalaman hidup beliau sekaligus pelajaran yang bisa diambil dari hal tersebut.

Buku Inspiratif – Kuliah Terakhir karya Randy Pausch

Kuliah Terakhir yang Inspiratif

Saya pribadi begitu tersentuh dengan isi buku ini. Pausch mampu menyampaikan pelajaran hidup dengan apik dan tidak membosankan. Ada banyak pesan ‘mengena’ yang sesuai dengan hal-hal yang umum dialami setiap orang.

Tentunya ada banyak kisah di dalamnya, mulai dari saat Pausch masih kecil hingga saat-saat terakhir beliau. Baik itu tentang ayahnya, bagaimana ia menemukan sahabat, saat Pausch mengalami titik balik dalam hidup yang mengubah dirinya, saat kelahiran putra pertamanya, hingga saat beliau menjalani pengobatan kanker.

Cerita-cerita itu dikelompokkan sesuai dengan temanya, yaitu Menggapai Impian Masa Kecil, Petualangan dan Hikmahnya, Membantu Mewujudkan Impian Orang Lain, Bagaimana Menjalani Kehidupan, dan Kata-kata Terakhir.

Banyak pelajaran berharga yang ditulis dalam buku ini. Membacanya seperti sedang mendengarkan seorang Ayah yang berbagi kisah hidup dan memberikan nasehat.

Inilah 5 pelajaran yang bisa Arum ambil dari buku karangan Randy Pausch:

1. “Even if the scan results are bad tomorrow,” I had told her, “I just want you to know that it feels great to be alive, and to be here today, alive with you.”

Apapun kondisi hidup yang sedang dialami, yang terpenting adalah bagaimana kita memilih untuk menjalaninya.

2. “She had given me a window into myself. I was still fully engaged. I still knew life was good. I was doing OK.”

Tanpa disadari, sebuah ucapan apresiatif bisa menjadi semangat baru bagi orang lain saat ia sedang berada pada titik terendah dalam hidup.

3. “In the fifty years my parents were married, in the thousands of conversations my dad had with me, it had just never come up. And so there I was, weeks after his death, getting another lesson from him about the meaning of sacrifice—and about the power of humility.”

Pengorbanan yang tulus ikhlas dan kerendahan hati memiliki nilai yang sangat berarti dan tidak semua orang memilikinya.

4. “And she took my advice. She became a Tuesday-night waitress and soon enough paid off her debts. After that, she could go back to yoga and really breathe easier.”

Ketika kita mengalami stres karena suatu permasalahan, kita cenderung melakukan sesuatu untuk meredakan stres, namun tidak berusaha menyelesaikan masalahnya. Padahal cara yang terbaik adalah selesaikan masalahnya, maka rasa stres pun akan menghilang dengan sendirinya.

5. “My colleague told me: “It took a long time, but I’ve finally figured it out. When it comes to men who are romantically interested in you, it’s really simple. Just ignore everything they say and only pay attention to what they do.”

Ini saran khusus buat para kaum hawa yang sedang mencari pasangan: perhatikanlah apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka katakan.

Sebenarnya ada banyak sekali pelajaran hidup yang Pausch sampaikan dalam kuliah terakhir beliau ini, namun kali ini Arum hanya menyebutkan 5 hal saja.

Untuk versi lengkapnya, Anda bisa membeli bukunya di toko buku terdekat atau bisa juga membeli e-book secara online. Harganya kisaran Rp 90.000,-.

Versi asli dari buku ini berbahasa Inggris. Namun tersedia versi terjemahan bahasa Indonesia. Isi dari versi terjemahan cukup bagus dan bisa menyampaikan pesan dari versi aslinya dengan baik.

Saat membaca buku ini, saya merasa seperti diberi banyak wejangan hidup yang penting. Cara beliau menyampaikan juga mudah dipahami dan logis.

Pausch juga menulisnya di saat-saat terakhir hidupnya, dimana beliau sadar sepenuhnya bahwa sisa hidupnya tidak lebih dari 3 bulan. Pada keadaan seperti itu, orang cenderung akan lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa buku ini menjadi tenar di media sosial dan media massa.

Selesai membaca buku ini, pertanyaan ini muncul di benak saya:

“Jika nanti saya tiada, saya ingin dikenang sebagai orang yang seperti apa? Dan hal baik apa yang bisa saya tinggalkan bagi orang-orang yang saya sayangi?”

Author: Arum Kinasih

"this too, shall pass"

Leave a Reply

Your email address will not be published.