Menilai Orang Lain Itu Gampang – Kata Siapa?

Kita semua melakukannya. Anda melakukannya. Saya melakukannya. Teman kita melakukannya. Kita menilai orang lain.

Di pusat perbelanjaan, kita diam-diam menilai orang lain saat sedang mengantri di kasir. Kita diam-diam menilai anggota keluarga kita berdasarkan seberapa besar mereka men-support kita. Menilai teman-teman kita berdasarkan seberapa cepat mereka merespon chat dari kita. Kita juga menilai hal-hal lain secara tidak sadar karena hal itu sudah menjadi kebiasaan kita.

Ketika kita makan, insting kita bisa menilai mana makanan yang aman atau tidak untuk dikonsumsi. Ketika kita bertemu dengan orang baru, kita bisa secara reflek menilai apakah mereka menarik atau tidak. Ketika kita dalam bahaya, kita bisa membuat penilaian untuk membuat keputusan selama sepersekian detik dimana kita akan melompat atau berlari ke jalan mana yang akan kita lalui. Hal-hal alami inilah yang memungkinkan kita untuk bertahan hidup.

Menilai sesuatu, baik secara sadar maupun tak sadar, adalah bagian mendasar dari pengalaman manusia. Kita melakukannya sepanjang hari karena itu adalah fungsi dasar untuk bergerak, bertindak, dan hidup di dunia yang dinamis ini. Karena kita tidak bisa berbuat banyak pada kepercayaan yang kita miliki tanpa secara aktif berkontribusi, kita sendiri memiliki cara untuk menilai orang lain.

Menilai Orang Lain Itu Gampang - Kata Siapa?
Menilai Orang Lain Itu Gampang – Kata Siapa? Photo by Joe Green on Unsplash

Sayangnya, kebanyakan dari cara – cara tersebut memiliki kekurangan.

Tindakan Atau Niat, Yang Mana Yang Dilihat?

Cara kita menilai orang lain biasanya dipengaruhi oleh bagaimana kita dibesarkan. Dua hal yang paling sering sering digunakan adalah berdasarkan bagaimana orang lain berinteraksi dengan kita: dilihat dari tindakannya dan dari niatnya. Tujuannya adalah membandingkan perilaku seseorang dengan yang lainnya.

Ketika kita tumbuh di sebuah keluarga yang lebih menghargai proses daripada hasil yang dicapai, kemungkinan besar, kita akan menilai orang lain dari niat mereka. Kekasih memberikan hadiah yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita? Itu tidak akan menjadi masalah, karena kita sudah luluh dengan niat yang dia punya dan juga usaha yang dia lakukan.

Jika kita dibesarkan di keluarga yang lebih mementingkan hasil, kita akan cenderung tidak peduli dengan usaha yang telah dilakukan. Kita hanya akan melihat orang lain dari tindakan yang sudah dia perbuat. Jadi, sekalipun sudah melakukan sesuatu dengan niat yang besar dan berjuang mati-matian, jika gagal, ya sudah, gagal.

Setiap cara pandang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sulit untuk memastikan mana yang lebih baik. Jika kita melihat sesuatu dari prosesnya dan menilai seseorang dari niatnya, kita akan menjadi pribadi yang penyabar dan baik hati. Sementara kalau kita fokus pada hasil akhir dan menilai seseorang dari apa yang dia perbuat, kita akan cenderung menjadi pribadi yang mau berusaha keras dan bisa diandalkan.

Biasanya akan terjadi masalah jika kita menggabungkan kedua cara pandang ini, karena kita akan cenderung menilai diri kita sendiri berdasarkan niat kita dan menilai orang lain berdasarkan perbuatannya. Kita jadi punya standar ganda.

Misalnya, kita mengkritik orang lain yang datang terlambat, tetapi saat diri kita sendiri yang terlambat, kita mencari-cari alasan untuk membenarkan diri sendiri bahwa kita sudah berusaha untuk tidak datang terlambat. Orang lain akan menilai kita sebagai pribadi yang egois.

Terlepas dari cara pandang mana yang terbentuk sejak kita kecil, jadilah pribadi dewasa yang konsisten. Nilailah orang lain sebagaimana diri sendiri ingin dinilai.

Tak peduli seberapa fanatik kita menganut salah satu atau kedua filosofi tersebut, kita tetap akan goyah, karena kita hidup di dunia yang selalu mengalami perubahan. Biasanya perubahan itu dipengaruhi oleh sebuah moment.

Misalkan kekasih berselingkuh tetapi anda masih ingin memaafkannya, atau anak terkasih bermain buruk dalam pertandingan olahraga di sekolahnya tetapi anda ingin memuji kegigihannya dalam berusaha. Saat kita merasa tidak nyaman karena kita tidak ingin menyangkal diri sendiri, itu adalah tanda bahwa kita sudah menjadi terlalu kolot.

Mungkin kita memerlukan cara baru untuk memahami perilaku orang lain.

Hal Yang Sebenarnya Kita Cari

Jika anda ingin meningkatkan akurasi dalam menilai seseorang sehingga dapat menyesuaikan sikap kita dengan sikap orang lain agar terjadi keseimbangan yang membuat kita merasa nyaman, tanyakan dulu pada diri sendiri mengapa anda perlu penjelasan mengenai perilaku seseorang. Jika itu karena ingin meningkatkan hubungan dengan orang lain, maka anda sudah memiliki motivasi yang benar.

Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita kendalikan. Jika kita mampu mendeteksi keinginan dan motivasi orang lain, kita akan mengurangi kerumitan hidup ini. Kita ingin tahu siapa – siapa saja yang bisa kita dekati dan yang perlu dijauhi. Dalam urusan bisnis, dengan mengetahui apa yang rekan kerja inginkan akan meningkatkan kualitas hubungan bisnis.

Apabila kita menggunakan kedua filosofi tadi dalam menilai seseorang, sebenarnya kita hanya menilainya secara kontekstual – yang artinya kita menilai orang lain berdasarkan sedikit hal yang bisa kita lihat, yang biasanya menyebabkan terjadinya kesalahpahaman. Hal ini disebut dengan The Fundamental Attribution Error atau kesalahanpahaman seseorang dalam mempersepsikan atau mengidentifikasi perilaku seseorang dan menggali pengetahuan mengapa mereka berperilaku seperti itu.

Saat kita menilai orang lain, sesungguhnya kita sedang berusaha membuat segala yang terjadi di dunia ini menjadi masuk akal. Kita melabeli seorang wanita yang menyerobot antrian sebagai orang yang egois. Sepertinya kita sudah cukup mengetahui karakter wanita itu, tapi sebenarnya kita tidak tahu apa-apa.

Bagaimana jika saat menilai “dia adalah wanita yang tidak sopan” kita memberi tanda tanya di akhir kalimat? Bagaimana jika kita mengganti kebiasaan menilai seseorang dengan mencaritahunya terlebih dahulu? Bukankah itu akan membuat kita mengetahui apa yang sedang terjadi daripada sekedar mengira-ngira seperti apa mereka?

Karena satu–satunya cara agar kita bisa benar–benar memahami orang lain adalah dengan mencari tahu latar belakangnya. Apakah dia melakukannya dengan sengaja? Ataukah dia dipaksa untuk melakukan itu? Atau dia terpaksa melakukan hal tersebut walau sesungguhnya itu tidak perlu dilakukan?

Memahami banyak faktor yang memengaruhi perilaku seseorang adalah sebuah proses untuk menemukan kebenaran. Tidak mungkin jika proses ini diawali dengan mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Hal itu akan membuat kita mengidentifikasi berdasarkan sebuah prasangka, karena mencari tahu dan menghakimi tidak mungkin dapat dilakukan secara bersamaan.

Penilaian yang Tepat

Membuat asumsi adalah bagian dalam hidup ini. Namun bila berhubungan dengan interaksi terhadap sesama, asumsi kita sering keliru. Penyebabnya adalah karena kita terlalu cepat mengambil kesimpulan daripada mempertanyakan perilaku seseorang.

Dengan mencari tahu dan menolak untuk menghakimi orang lain, kita akan memahami keadaan yang sebenarnya. Mengganti sikap mudah menghakimi dengan mencari tahu akan memaksa kita untuk terus bertanya-tanya. Hal ini akan membuat kita menyikapi perilaku orang lain dengan cara yang lebih baik dan menghindarkan kita dari kesalahpahaman.

Kita memang tidak bisa memilih seperti apa kita dibesarkan, tetapi kita bisa memilih untuk memperbarui filosofi yang selama ini kita yakini dengan yang lebih baik. Jika kita cukup kepo untuk mencari tahu latar belakang atau alasan seseorang berperilaku, kita dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik, untuk orang lain, dan juga untuk diri kita sendiri.

Menilai Orang Lain Itu Gampang – Kata Siapa?
5 (100%) 2 votes

Berikan komentar....